Diabetes tipe 2 sering berkembang perlahan tanpa disadari, dengan gejala seperti mudah lelah, sering haus, dan lapar terus-menerus, sementara penyebabnya berkaitan dengan bagaimana tubuh merespons insulin seiring waktu. Berikut penjelasan lebih lengkap tentang apa yang bisa dirasakan, mengapa ini terjadi, dan siapa yang paling berisiko.
Tanda-tanda yang bisa Anda rasakan sehari-hari
Karena diabetes tipe 2 berkembang bertahap, banyak orang tidak menyadari gejalanya hingga bertahun-tahun kemudian. Rasa lelah yang tidak biasa sering muncul lebih dulu, karena glukosa yang seharusnya menjadi bahan bakar tubuh tidak berpindah dengan efisien dari darah ke sel-sel. Sering buang air kecil, terutama di malam hari, juga umum terjadi, karena ginjal berusaha menyaring kelebihan gula keluar dari darah.
Rasa haus berlebihan biasanya mengikuti setelahnya, sebagai respons tubuh terhadap cairan yang hilang dari sering buang air kecil. Anda mungkin juga merasa lapar terus-menerus meski baru saja makan, karena sel tubuh tidak menerima cukup glukosa meski kadarnya tinggi di darah. Luka yang lebih lama sembuh dari biasanya, kesemutan di tangan atau kaki, dan infeksi jamur berulang (biasanya di area yang lembap seperti lipatan kulit) juga bisa menjadi tanda yang sering terlewat.
Seberapa sering gejala ini benar-benar terlewat memang cukup mengejutkan. Di Amerika Serikat misalnya, sekitar 7,8 juta dari 38,4 juta orang dengan diabetes tidak menyadari bahwa mereka mengidapnya, menurut data yang dirangkum dari US News Health. Meski angka ini dari negara lain, pola yang sama diperkirakan berlaku di Indonesia, mengingat gejala awal yang memang ringan dan mudah disalahartikan sebagai kelelahan biasa.
Apa yang biasanya terungkap lewat pemeriksaan medis
Beberapa tanda diabetes lebih mudah terdeteksi lewat pemeriksaan dibanding dirasakan sendiri, seperti penglihatan kabur akibat pembengkakan lensa mata karena kadar gula tinggi, atau bercak kulit yang menggelap di area leher dan ketiak, yang biasanya berkaitan dengan resistensi insulin.
Menariknya, data terbaru menunjukkan bahwa prevalensi diabetes di Indonesia sedikit lebih tinggi pada wanita (sekitar 11,5%) dibanding pria (10,2%), yang dikaitkan dengan faktor hormonal, pola aktivitas fisik, dan risiko obesitas yang berbeda antara keduanya. Wanita dengan diabetes juga cenderung lebih sering mengalami infeksi jamur vagina berulang sebagai bagian dari gejalanya, sementara pria lebih mungkin mengalami penurunan massa otot yang tidak biasa.
Bagaimana diabetes tipe 2 sebenarnya berkembang di dalam tubuh
Diabetes tipe 2 dimulai ketika sel-sel tubuh, terutama di otot dan hati, berhenti merespons insulin dengan baik, kondisi yang disebut resistensi insulin. Pankreas kemudian berusaha mengkompensasi dengan memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga gula darah tetap normal. Selama beberapa waktu, strategi ini berhasil, namun lama-kelamaan pankreas menjadi kelelahan dan tidak mampu lagi memproduksi insulin sebanyak yang dibutuhkan, sehingga gula darah mulai naik secara bertahap.
Proses inilah yang sebenarnya menjelaskan gejala-gejala yang dibahas di bagian sebelumnya. Saat gula darah naik tapi tidak bisa masuk ke sel karena resistensi insulin, tubuh Anda pada dasarnya "kelaparan energi" meski darah penuh gula, itulah sebabnya muncul rasa lelah dan lapar terus-menerus. Sementara itu, ginjal yang berusaha membuang kelebihan gula lewat urine menjelaskan mengapa sering buang air kecil dan rasa haus berlebihan muncul hampir bersamaan.
Proses ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya terdiagnosis, itulah sebabnya banyak orang baru menyadari kondisinya setelah gejala menjadi cukup mengganggu, atau bahkan setelah komplikasi mulai muncul.
Mengapa periode belum terdiagnosis sangat berisiko
Justru periode bertahun-tahun sebelum diagnosis inilah yang paling berbahaya, karena kerusakan pada pembuluh darah dan saraf sudah mulai terjadi jauh sebelum seseorang merasa cukup terganggu untuk memeriksakan diri. Berbeda dengan gejala yang bisa hilang timbul dan mudah diabaikan, kerusakan pada organ tubuh terus berlangsung secara diam-diam selama gula darah tetap tinggi, tanpa memandang apakah orang tersebut menyadarinya atau tidak.
Inilah alasan mengapa pemeriksaan gula darah rutin lebih penting daripada menunggu gejala muncul, terutama bagi yang memiliki faktor risiko, karena pada saat gejala benar-benar terasa mengganggu, proses kerusakan mungkin sudah berjalan cukup lama.
Apa yang mempercepat prosesnya
Lemak yang menumpuk di area perut (lemak viseral) sangat berperan dalam mempercepat resistensi insulin, karena jenis lemak ini melepaskan zat yang mengganggu cara sel merespons insulin secara langsung. Kurangnya aktivitas fisik memperburuk kondisi ini, karena otot yang jarang digunakan menjadi kurang efisien dalam menyerap glukosa dari darah.
Pola makan tinggi gula dan rendah serat juga mempercepat prosesnya, karena memaksa pankreas bekerja lebih keras secara terus-menerus. Kebiasaan merokok turut berkontribusi, karena nikotin diketahui dapat meningkatkan lemak perut dan memengaruhi sekresi insulin, sementara stres kronis yang meningkatkan hormon kortisol juga bisa membuat gula darah lebih sulit dikendalikan.
Siapa yang lebih berisiko sejak awal
Usia di atas 45 tahun meningkatkan risiko secara alami, karena sel penghasil insulin cenderung bekerja kurang efisien seiring bertambahnya usia. Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2 juga meningkatkan kemungkinan, dengan risiko sekitar 2 hingga 6 kali lebih besar dibanding orang tanpa riwayat keluarga diabetes, karena sebagian risiko ini diturunkan secara genetik.
Latar belakang etnis juga berperan, tidak hanya karena gaya hidup. Beberapa penelitian mencatat bahwa populasi Asia, termasuk Indonesia, cenderung mengembangkan resistensi insulin pada indeks massa tubuh yang lebih rendah dibanding populasi Barat, artinya seseorang bisa berisiko diabetes tanpa terlihat "kelebihan berat badan" menurut standar umum.
Menurut pedoman PERKENI, Indonesia berada di peringkat ke-6 dunia dalam jumlah penderita diabetes, dengan sekitar 50% kasus diperkirakan belum terdiagnosis, dan dari yang sudah terdiagnosis pun hanya sekitar dua pertiga yang benar-benar menjalani pengobatan. Riwayat diabetes saat kehamilan (diabetes gestasional) juga menjadi faktor risiko tersendiri, begitu pula tinggal di wilayah perkotaan, di mana prevalensi diabetes tercatat lebih tinggi dibanding pedesaan, kemungkinan besar karena gaya hidup yang lebih sedentari dan pola makan tinggi kalori.
Risiko jika dibiarkan tanpa penanganan
Jika kadar gula darah tinggi dibiarkan tanpa penanganan dalam waktu lama, kerusakan bisa terjadi secara bertahap pada pembuluh darah dan saraf di seluruh tubuh. Ini bisa berujung pada gangguan penglihatan yang serius, kerusakan ginjal, meningkatnya risiko serangan jantung dan stroke, serta gangguan sirkulasi di kaki yang pada kasus parah bisa memerlukan amputasi.
Perlu dicatat bahwa diabetes tipe 2 berbeda dari tipe 1 dalam banyak hal, termasuk cara berkembangnya dan bagaimana tubuh merespons insulin. Jika Anda ingin memahami perbedaan lengkapnya, silakan lihat halaman kami tentang diabetes tipe 1 vs tipe 2.
Apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala ini
Jika Anda mengenali beberapa gejala di atas, langkah pertama adalah memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan lewat tes gula darah, bukan menebak sendiri berdasarkan gejala saja. Sambil menunggu atau setelah diagnosis, ada beberapa bahan alami yang sering digunakan sebagai pendukung, yang bisa Anda pelajari lebih lanjut di halaman suplemen alami untuk diabetes kami.
Anda juga bisa melihat pilihan suplemen untuk diabetes sebagai bagian dari rutinitas harian, selalu bersamaan dengan pengobatan yang disarankan dokter, bukan sebagai pengganti.
Pertanyaan umum seputar gejala diabetes tipe 2
Ya, cukup umum terjadi. Itulah sebabnya pemeriksaan rutin penting, terutama jika Anda memiliki faktor risiko seperti kelebihan berat badan atau riwayat keluarga dengan diabetes.
Tidak selalu, tapi ini salah satu gejala yang paling khas. Jika muncul bersamaan dengan gejala lain dalam daftar ini, sebaiknya periksakan diri.
Umumnya setelah usia 45 tahun, meski belakangan ini semakin banyak kasus muncul pada usia yang lebih muda, seiring meningkatnya angka obesitas dan gaya hidup kurang aktif.
Hampir selalu bertahap, kadang berlangsung selama bertahun-tahun, itulah kenapa banyak orang tidak langsung menyadarinya.
